Minggu, 22 Maret 2020

Sosial distancing menjadi pilihan pemerintah Indonesia dalam menghadapi wabah COVID-19, kenapa tidak Lockdown saja ?


Dunia saat ini sedang digemparkan oleh virus Corona/COVID-19. Virus ini bermula dari Kota Wuhan, Tiongkok. Virus ini diketahui pertama kali muncul di pasar hewan dan makanan laut di Kota Wuhan. Dilaporkan kemudian bahwa banyak pasien yang menderita virus ini dan ternyata terkait dengan pasar hewan dan makanan laut tersebut. Orang pertama yang jatuh sakit akibat virus ini juga diketahui merupakan para pedagang di pasar itu. 
Dikutip dari BBC, koresponden kesehatan dan sains BBC, Michelle Roberts and James Gallager mengatakan, di pasar grosir hewan dan makanan laut tersebut dijual hewan liar seperti ular, kelelawar, dan ayam. Mereka menduga virus corona baru ini hampir dapat dipastikan berasal dari ular. Diduga pula virus ini menyebar dari hewan ke manusia, dan kemudian dari manusia ke manusia. 
Di indonesia sekarang pun akhirnya terkena dampaknya. Awalnya hanya dua orang saja yang terkena virus corona dan akhirnya pun jumlah kasu semakins meningkat dari enam pasien pada pekan pertama Maret menjadi 450 pasien terjangkit. Dalam jumpa pers pada Sabtu (21/03), pemerintah menyebut dari 450 orang yang terjangkit, 38 orang di antara mereka meninggal dunia. Dan yang sembuh ada 20 orang.
Banyak pihak-pihak yang mendesak agar Indonesia segera di lockdown, tetapi Presiden Jokowi menyuruh agar warganya tetap menjaga diri dengan social distancing. Social distancing disini adalah membatasi diri dari kegiatan yang ada di luar rumah. Upaya pemerintah dalam menangani virus ini adalah dengan membuat surat edaran yang dimana sebagai pencegahan Virus Covid-19/Corona ini perangkat pendidikan membuat kebijakan untuk tidak bertemu dengan orang banyak sehingga sistem pembelajarnya diganti menjadi daring/online. 
Di lansir dari Cnbcindonesia.com Juru Bicara Pemerintah RI untuk Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan bahwa opsi lockdown untuk memberantas penyebaran virus corona di tanah air terlalu ekstrem. Hal ini yang menjadi dasar Presiden Jokowi tak berpikir pada kebijakan lockdown.
"Di dalam penyakit menular yang kemudian masif, lockdown itu merupakan salah satu alternatif dan ini alternatif paling ekstrem. Oleh karena itu kita tidak akan menuju ke sana karena harus ada alternatif-alternatif yang lebih rasional yang harus kita kerjakan," ujarnya, di acara Hitam Putih yang tayang 18 Maret 2020.
Ia menerangkan lockdown bukan hanya menutup penyebaran tetapi seluruh kehidupan ditutup, seperti masuknya bahan pokok makanan, bisnis, dan sebagainya. 
"Sederhana saja, kalau ada pasokan air minum dari luar Jakarta nggak bisa masuk. Pasokan LPG nggak bisa masuk karena betul-betul ditutup. Oleh karena itu bukan pilihan yang terbaik ini adalah yang ekstrem," kata pria yang akrab disapa Yuri.
Sosial Distancing sendiri adalah tindakan untuk mengurangi kontak dengan orang lain dan menghindari kegiatan dikeramaian. Bentuk sosial distancing yang perlu dilakukan adalah mengindari keramaian (misalnya situasi, kegiatan atau acara besar yang dihadiri orang banyak dan berdesakan), mengurangi transportasi publik dan belajar dan bekerja dirumah. Dengan menghindari keramaian, tentu bisa membantu untuk memperlambat atau mengehentikan penyebaran virus corona ini.Jika terpaksa keluar rumah harus menggunakan masker. Maka dari itu bisa dilihat dari sekarang banyak acara musik, syuting, acara pernikahan ataupun kegiatan lainnya yang mengundang banyak massa ini dihentikkan untuk sementara. 
Tetapi sosial distancing ini memang masih sulit untuk dilakukan oleh kebanyakan orang apalagi untuk perusahaan atau pabrik yang masih mewajibkan karyawannya untuk pergi ke tempat kerja. Walaupun begitu masih ada tips untuk orang-orang yang masih harus berpergian, yang pertama jangan melakukan jabat tangan, jangan berhadapan dengan orang yang sedang flu atau batuk dimanappun itu, kedua, jangan sentuh wajah anda, ketiga, jangan lupa selalu cuci tangan anda dengan sabun antiseptik, keempat cucilah pakaian yang telah anda gunakan selama berada di luar dan yang terakhir segera mandi atau bersih-bersih setelah pergi dari luar rumah.
Sosial distancing ini berbeda dengan self-quarantine dan self-isolation, Self-quarantine ini ditujukan untuk orang yang berisiko tinggi terkena virus Corona, contohnya pernah berinteraksi dengan penderita COVID-19, tetapi masih belum menunjukkan gejala apapun, Orang yang sedang menjalani self-quarantine harus mengarantinakan diri sendiri dengan tetap berada di rumah selama 14 hari. Dalam masa ini, orang yang menjalani self-quarantine diminta untuk tidak menerima tamu, tidak berbagi dalam menggunakan alat makan dan alat-alat pribadi dengan orang lain, menjaga jarak setidaknya 1 meter dengan orang yang tinggal serumah, mengenakan masker saat berinteraksi dengan orang lain, serta selalu menjaga kebersihan diri dan sering mencuci tangan. Jikalau Self-isolation sendiri diberlakukan kepada orang yang sudah terbukti positif menderita penyakit COVID-19.  
Self-isolation merupakan upaya penanganan alternatif ketika rumah sakit tidak mampu lagi menampung pasien COVID-19. Menerapkan self-isolation tidak bisa sembarangan dan harus dengan arahan dokter. Dalam prosesnya, penderita COVID-19 harus mengisolasi dirinya sendiri di ruangan atau kamar khusus di rumah dan tidak diperkenankan keluar agar tidak menularkan virus Corona kepada orang lain. Siapa pun yang ingin berinteraksi langsung dengan penderita hanya diperkenankan selama 15 menit dan harus mengenakan masker atau alat pelindung diri, serta menjaga jarak sejauh 1 meter.  Barang yang digunakan si penderita, mulai dari sikat gigi hingga tempat makan, harus dibedakan dengan barang yang digunakan oleh orang lain yang tinggal serumah dengannya. Penderita pun wajib untuk selalu mengenakan masker, terutama saat berinteraksi dengan orang lain.
Jadi pilihan satu-satunya yang terbaik saat ini adalah mengurangi kemungkinan terjadinya orang-orang untuk berinteraksi secara langsung atau kontak dekat atau yang disebut pembatasan sosial (social distancing) lebih dianjurkan. Menghindari kerumunan, mengurangi berada ditempat-tempat umum, bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah merupakan bentuk dari social distancing. 
Sumber : Bbc.Com, Cncbindonesia.com, dan aladokter.com
Nama : Fahma nuril izzati
Kelas : Sosiologi 4B